Sikap seperti apa yang anda pilih ketika situasi tidak sesuai harapan Anda?
seseorang tidak mengembalikan uang yang ia pinjam, pasangan berselingkuh, atau anak Anda meninggalkan rumah?
seseorang tidak mengembalikan uang yang ia pinjam, pasangan berselingkuh, atau anak Anda meninggalkan rumah?
Respon dari kebanyakan orang yang saya tahu adalah menyalahkan.
dengan menyalahkan kita berharap orang lain sadar dan berubah, namun yang sering terjadi adalah antiklimaks, orang lain termasuk kita sendiri tidak suka disalahkan.
dengan menyalahkan kita berharap orang lain sadar dan berubah, namun yang sering terjadi adalah antiklimaks, orang lain termasuk kita sendiri tidak suka disalahkan.
Berharap orang lain, pasangan bahkan anak
kita untuk berubah seperti yang kita harapkan adalah seperti membeli
lotre dan berharap kita yang dapat, apalagi harapan itu kita ingin
wujudkan dengan membuat orang lain dipersalahkan.
Disisi lain,
bila kita percaya Allah,Tuhan atau semesta mempunyai hukum yang adil dan
maha mengetahui segalanya maka apa lagi yang perlu kita komplain?.
Bukankan setiap orang yang melakukan sesuatu pasti menerima konsekwensi yang setara?
saya percaya bahwa apapun yang terjadi pada kita bukan begitu saja
terjadi melainkan sebuah peristiwa terjadi karena merespon apa yang ada
di dalam diri kita.
Bahasa kerenya , life is not happening to You, but responding to You.
Ditipu, ditinggalkan, dikhianati ataupun lainnya, semuanya adalah hasil dari apa yang ada di dalam.
Sadari selalu, kita tidak punya kontrol untuk membereskan orang lain namun selalu punya kemampuan untuk mengubah diri sendiri.
Disaat kejadian yang berseberangan itu bertandang, Re-aksi yang hadir biasanya marah, lalu muncul kebencian ditambah lagi dendam yang mungkin berumur panjang.
Dan menariknya, dengan berbekal emosi negatif yang membara tersebut kita berharap mengubah orang lain.
Bayangkan, berniat mengubah orang lain dengan emosi tenang saja susanya
setengah mati apalagi dengan kebencian yang sedang membara.
saya
tidak mengatakan seseorang tidak boleh marah atau kita perlu menekan
rasa marah yang mencuat, namun ketahuilah bahwa marah adalah bentuk
komunikasi dari bawah sadar ke bagian sadar di diri ini, ia mirip
seperti indikator di sebuah mesin atau lampu petunjuk oli yang menyala
di dashboard mobil pada saat oli di mesin habis.
Yang artinya rasa marah yang muncul dari dalam ini perlu dicari sumbernya bukan malah diluapkan melalui kata-kata tajam serta tindakan keras atau malah dihiraukan.
Biasanya orang beRe-Aksi karena ada kejadian di masa
lampau yang masih mengganjal, kejadian itu mungkin sekali oleh kesadaran
pada saat itu telah dimaknai, lalu membentuk menjadi program yang
secara otomatis bekerja bila kejadian tertentu terjadi.
makanya dinamakan reaksi (re-aksi= aksi yang diulang)
makanya dinamakan reaksi (re-aksi= aksi yang diulang)
Sebagus apapun program tetaplah program, sementara kita adalah manusia bukanlah robot.
Seringkali dalam hidup, kita terkondisikan (baca ; terprogram) untuk
memberi syarat pada kebahagiaan diri atau menggantungkan kedamaian hati
kita pada orang lain atau situasi tertentu.
Sehingga bila situasi atau seseorang berlaku tidak sesuai dengan keinginan kita, maka emosi negatif terpicu.
Sehingga bila situasi atau seseorang berlaku tidak sesuai dengan keinginan kita, maka emosi negatif terpicu.
saya tidak mengatakan kita harus diam saja ketika seseorang tidak
menepati janjinya, lakukan sesuatu namun dasanya bukan kemarahan atau
kebencian.
Bereskan yang didalam dahulu, kemarahan hadir adalah
bagaikan undangan agar kita masuk dan meneliti bathin kita dan bila
keadaan sudah tenang barulah kita mengarah ke luar.
saya rasa kita semua setuju bahwa tidakan apapun akan lebih efektif bila dilakukan dalam kondisi bathin yang damai.
'Tapi Pak', potong seseorang "bagaimana saya bisa bahagia kalau uang saya tidak kembali?"
"bagaimana hati saya bisa damai kalu suami saya selingkuh?
"bagaimana saya bisa tenang kalau anak semata wayang saya pergi dari rumah?"
"bagaimana hati saya bisa damai kalu suami saya selingkuh?
"bagaimana saya bisa tenang kalau anak semata wayang saya pergi dari rumah?"
Lagi-lagi itu artinya ada syarat dalam pencapaian kedamaian hati, dan
bila kita mau masuk dan mengamati lebih dalam diri ini, kita akan
menemukan satu sumber yang benama ego atau sang 'aku'.
karena uang'ku' , suami'ku dan anak'ku' maka 'aku' menjadi sedih, marah atau cemas.
karena uang'ku' , suami'ku dan anak'ku' maka 'aku' menjadi sedih, marah atau cemas.
Kita tidak perduli bila negara lain yang di hina, atau suami tetangga
nikah lagi atau bahkan merasa beruntung bila kompetitor bangkrut. semua 'aku' dan 'punyaku' adalah ilusi,
Kita semua manusia tidak pernah kehilangan apa-apa, karena sejatinya kita tidak pernah memiliki apa-apa.

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking