Cinta Tuhan Lewat Alam Semesta Terhadap Mu
Kemarin saya jelaskan ajaran pelet untuk menarik hati seisi semesta ke dalam hati Anda, yang cara kerja ialah Anda memimpin diri Anda sendiri, melatih sibuk dalam disiplin. K.H. Abdurrahman Wahid sibuk di dalam Allah dan kemanusiaan, kursi RI 1 datang sendiri. Jokowi sibuk kerja, kerja dan kerja, kursi RI 1 juga datang melamar.
Bukan hanya jabatan, ilmu jug datang sendiri. Seperti kemarin saya kisahkan keadaan saya waktu di pesantren dulu, saya sibukkan diri dalam disiplin belajar dan ibadah, tahu-tahu kitab-kitab yang belum saya kajikan pada guru bisa saya baca. Kecintaan orang juga mengalir sendiri, dan karir yang dulu saya idamkan tetapi tidak wujud-wujud juga nemui sendiri. Itu terjadi ketika saya "tekun" dalam disiplin hidup. Tentu ini tidak berhubungan dengan "mendisiplinkan orang" tetapi "mendisiplinkan diri sendiri".
Kenapa setelah kita terlelap dalam kesibukan disiplin, semesta datang pada kita? Itu karena ketika kita hanya berpikir, berperasaan, dan bertindak dengan fokus, ego kepentingan kita pada orang lain dan pada seluruh isi semesta tidak mengalami pijaran kuat, kita hidup dengan tulus tanpa banyak kepentingan.
Dalam kesibukan memimpin diri dengan latihan disiplin diri, hati jadi fokus, ketika fokus hati menjadi tidak banyak kepentingan ego, ketika sedikit kepentingan ego pada orang lain dan kepada seisi semesta, lalu semesta mencintai kita karena semesta merasa dicintai oleh kita.
Jadi cara mencintai semesta itu dengan kita sibuk memipin diri kita sendiri, mendisiplinkan diri.
Pengusaha toko material yang dulu saya kisahkan dalam status "Berhenti Merokok ketika Nyaman Merokok, Merokok Kembali ketika Sudah Nyaman tidak Merokok" ketika share piwulang urip dengan saya juga menyimpulkan hal yang sama.
Ia menyatakan pengalamannya, “Saya bisa menjadi pengusaha material dan alat bangunan sesukses sekarang ini hanya dengan modal uang 60 ribu. Saya mengawali usaha dengan menjual rokok untuk murid-murid ngaji saya di TPQ. Mulai saat itu saya selalu berjalan melawan arah dengan hasrat dan keinginan hati saya. Bila saya ingin merokok saya berhenti merokok, dan bila saya telah berhasil berhenti merokok justru saya merokok lagi. Dengan hasil dagangan rokok, saya selalu menahan diri dan mengendalikan diri untuk tidak membelanjakannya, saya bersikap seolah tak butuh pada uang, saya puasa dari hasrat dan keinginan saya untuk membelanjakan uang dengan beribadah kepada Allah dan berdzikir. Awalnya saya melakukan ini terasa berat, tapi ternyata nafsu itu bisa saya taklukan total dalam waktu dua tahun. Dalam dua tahun saya bertarung dengan kesungguhan hati dan kesabaran. Dan alhamdulillah, semua relasi bisnis terbuka sendiri, sekarang saya dikejar-kejar oleh uang, padahal sebenarnya saya sudah tak begitu butuh pada uang. Dan andai sekarang saya jatuh miskin lagi itu lebih membahagiakan hati saya. Uang mencintai saya dan mengejar saya, disaat semua hasrat dan keinginan saya telah terkendali. Di saat saya telah mampu memimpin diri.”
Ketika Anda telah memimpin diri dengan disiplin diri, itu artinya Anda telah puny kendali diri. Ketika telah kokoh kendali dirinya, segala sesuatu tunduk pada Anda. Kisah-kisah berikut ini contohnya;
Asiyah, istri Fir’aun berhasil menjadikan Fir’aun yang congkak dan kasar menjadi pria yang sujud di telapak kakinya. Hal ini karena Asiyah mampu menjadi manusia yang mengendalikan hasrat keinginan dan birahinya, yang mampu memimpin dirinya sendiri, sehingga energi cintanya mampu menaklukan orang lain. Asiyah selalu beriman pada Allah sekalipun hidup di lingkungan istana yang mewah dan penuh keglamouran. Kemampuan pengendalian dirinya, jadikan Fir’aun tergila-gila padanya.
Fir’aun, meskipun kekuasaan dan kezalimannya besar, tetapi ia mau menuruti saran dan pendapat istrinya yang menyuruh berbuat sesuatu yang mustahil, yang berlawanan dengan kebijaksanaan otoriternya, yaitu membunuh setiap bayi laki-laki dari Bani Israil. Tetapi, Musa yang jelas-jelas bayi laki-laki dari Bani Israil tulen, malah hidup manja di pangkuan Fir’aun, hanya karena Fir’aun terserap hatinya oleh permintaan Asiyah. Asiyah meminta pada Fir’aun; “Ia merupakan penyejuk hati bagiku dan bagimu, janganlah engkau membunuhnya. Mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita, atau kita pungut sebagai anak.”
Fir’aun yang sangat congkak ini, ternyata rela dan bersedia membiarkan Musa dan mengangkatnya sebagai anak angkat, Fir’aun tak sanggup membunuh Musa karena ia larut terpesona dengan energi cinta dari hati Asiyah. Kesedian Fir’aun itu timbul karena rasa cintanya kepada istrinya yang melekat di hati, sehingga istrinya bisa meminta apa pun yang diinginkannya.
Selama Musa hidup dalam istana Fir’aun berkali-kali Musa membuat usil pada Fir’aun. Pernah suatu ketika Fir’aun sedang menimang-nimang Musa, namun jenggotnya dijambak oleh Musa yang masih balita hingga tercabut perih. Fir’aun pun geram dan hendak membunuh Musa, namun Musa selalu dibela oleh Asiyah. Fir’aun pun lagi-lagi tak mampu menolak permintaan Asiyah. Energi cinta Asiyah mampu menghapus kecongkakan dan kesombongan Fir’aun.
Asiyah sukses membangun cinta bukan dengan gonta-ganti pacar atau berhias dan berdandan. Ia sukses memiliki cinta karena keteguhan imannya, kokoh dalam memimpin dirinya sendiri. Al-Qur’an jelas sekali dalam mengagungkan Asiyah.
Khadijah pun tenggelam dalam cinta Muhammad SAW. Ia terpikat dengan Muhammad yang saat itu menjadi buruh bisnisnya. Setelah menikah ia seperti orang yang terhipnotis, segalanya ia berikan pada Muhammad. Harta, perasaan, perhatian, dan semua yang ada pada Khadijah ia berikan pada Muhammad. Ini karena energi cinta Muhammad yang telah menarik hatinya. Muhammad memiliki energi ini bukan dengan merayu, mengerti, mendekati, memakai doa pengasihan atau lainnya, tapi karena Muhammad terbiasa mengendalikan dan melawan hasrat keinginannya.
Muhammad dalam menahan hasrat makan saja hingga perutnya di ganjal batu. Ia pula selalu mendekati pada orang yang ia benci, hingga seluruh kaum Jahiliyah yang memusuhinya malah kemudian mencintainya. Ia juga tak pernah bermaksiat, ketika muda—saat teman-temannya hidup gelamour, hura-hura, mabuk-mabukkan, judi, bermain wanita, menyembah berhala, mendatangi peramal dan lainnya—justru Muhammad mendapat gelar Al-AmÄ«n dari masyarakat Jahiliyah, karena kendali diri Muhammad atas birahi-birahi dan syahwat-syahwatnya. Hal ini beliau lakukan hingga mendarah daging, hingga menjadi watak dan tabiat beliau. Sebab ini, beliau sangat berkharisma dan berwibawa. Kenapa? Beliau senantiasa mengekang energi birahinya dan mengoptimalkan energi cintanya, karena beliau memberi cinta maka beliau pun mulia, berkharisma dan berwibawa.
Jika Nabi berbicara, pembicaraan Nabi membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya mendengar pembicaraan Nabi). Jika Nabi diam, barulah mereka berbicara.
Mereka tidak pernah membantah sabda Nabi. Bila ada yang berbicara di hadapan Nabi, mereka diam memperhatikannya sampai Nabi selesai bicara. Pembicaraan mereka di sisi Nabi hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Nabi tertawa bila mereka tertawa. Nabi takjub bila mereka takjub, dan Nabi bersabar menghadapi orang asing yang kasar ketika berbicara atau ketika bertanya sesuatu kepada Nabi, sehingga para sahabat Nabi selalu mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu guna memetik faedah.
Ketika Khadijah mangkat, Nabi mampu hidup harmonis dengan 9 istri dalam satu masa, satu keluarga. Namun ke-9 istrinya tak ada satu pun yang merasa ingin diceraikan oleh Nabi, semuanya lengket. Apa Nabi pandai merayu wanita? Suka menggombal di depan wanita? Apa suka agresif pada wanita? Tidak. Nabi bersalaman dengan wanita saja tidak pernah apalagi merayu dan mendekati mereka. Kalau kita teliti ternyata Nabi orang yang selalu “menahan diri” dan “melawan hasrat keinginan” beliau sendiri. Inilah contoh prilaku cinta. Jika cinta diartikan mendekat dan mesra di saat berhasrat, itu urusan kawin saja.
Begitulah orang-orang yang dicintai alam semesta. Mereka dicintai alam semesta dengan memimpin diri, fokus pada piliham hidupnya..
karya : Muhammad Nurul Banan

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking