Persoalannya Sesungguhnya Ada Di Dalam Diri Mu Sendiri
Seperti kisah berikut ini, dimana seorang yang tidak berkemauan menuntaskan cita-citanya, berkemauan keras mengubah nasib hidupnya, ketika ia menghadapi masalah di luar dirinya, ia pun tidak bisa menghadapinya.
"Aku lahir sebagai anak yatim. Kata ibu, ayahku meninggal ketika aku usia 7 bulan di kandungan. Ibuku hanya seorang janda miskin. Praktis sejak kelas 4 SD, aku sudah harus berpikir cari uang. Jadi pemulung hal yang sudah biasa aku lakukan sejak kecil bersama kakak perempuanku. IQ-ku lumayan brilian sehingga aku selalu punya ranking di kelas, bahkan berbagai kejuaraan cerdas cermat tingkat kabupaten sempat aku juarai. Karena kecerdasanku, juga karena guru-guruku di SD tahu aku hidup kekurangan, mereka sangat mendorongku melanjutkan ke SMP Negeri. Ketika kusampaikan pada ibu, ibu hanya diam kecut, ia takut dengan biaya, dan aku sendiri juga takut dengan bayangan biaya. Maklum waktu itu tahun 1970-an, pemerintah RI juga belum banyak membantu pendidikan. Lulus SD aku tidak jadi melanjutkan ke SMP Negeri. Aku dan ibu sebenarnya ingin sekali aku ke pesantren, karena bagaimanapun kakekku seorang pendiri masjid, beliau tokoh agama di kampungku, yang masjid warisan beliau sekarang ini diimami dan dikelola oleh pamanku. Karena ada pengaruh nasab, aku berminat ke pesantren."
"Akhirnya, selulus SD aku di rumah saja sambil kerja apa saja, mulai dari tukang cuci piring warung mie ayam milik paman, jadi penjual koran, sampai jualan jajanan di kereta api. Otakku yang brilian dirongsokkan begitu saja, tidak menuntut ilmu apa-apa, tidak sekolah juga tidak di pesantren, masalahnya sederhana takut dengan bayangan biaya pendidikan. 2,5 tahun kemudian aku jenuh dengan hidupku, terasa lelah sekali hidup jadi anak janda miskin. Sementara lingkunganku memang lingkungan agamis pesantren, sehingga lama-lama minatku untuk ke pesantren makin kuat. Akhirnya aku berangkat ke pesantren."
"Karena tidak ada biaya, aku jadi khadam (pelayan) kyai, dengan beberapa santri lain tugasku menggarap sawah dan kebun kyai. Ya ngaji aku dapatkan sekenanya saja, lainnya kerja. Selama di pesantren, aku juga sering jadi buruh tani di sawah-sawah orang kampung. Kalau pas musim panen kadang aku bisa mengirim padi buat ibu. Aku mudah sekali menguasai pelajaran, sama seperti ketika di SD, walau aku banyak kerja ketimbang ngaji, aku tetap terlihat sebagai bintang."
"Tidak terasa 7 tahun aku di pesantren. Masuk tahun ke-7, kakak perempuanku menikah. Ibu sendirian di rumah. Aku tidak tega. Akhirnya aku yang belum tuntas di pesantren bermukim, pulang rumah untuk nemani ibu. Ibu melarangku pulang, beliau mengaku walau sendirian tetapi beliau masih berusia 50-an, jadi masih sanggup hidup mandiri sendiri. Ketika aku pamit pada kyai, beliau merestui aku mukim di rumah, tapi beliau menyayangkan diriku, beliau bilang, "Kamu itu cerdas. Lima tahun lagi saja di pesantren, insyā-a-llāh ilmumu sudah mumpuni." Sekalipun ibu dan kyaiku tidak sepenuhnya merestui kepulanganku, tapi aku sendiri yang merasa sudah jenuh sekali hidup di pesantren dengan terus harus terbebani mencari biaya sendiri. Aku pun tidak selesai di pesantren. Dan mukim di rumah."
"Lagi-lagi, aku memang cerdas dan punya karakter memimpin yang menonjol. Masjid yang diimami pamanku aku inovasi dengan berbagai kegiatan. Namaku mulai terangkat di masyarakat. Aku pun muncul sebagai tokoh pemuda. Dua tahun kemudian pamanku wafat, sementara beliau tidak punya anak lelaki. Kelima anaknya perempuan yang tidak matang di ilmu agama. Akhirnya akulah yang menggantikan paman sebagai imam masjid sekaligus pemimpin agama di desaku."
"Setahun kemudian aku menikah, dan memang takdirku paten jadi tokoh agama di desaku. Setelah menikah, persoalan yang membelitku tetap soal ekonomi. Aku dagang ini itu tidak ada yang kusukseskan. Pernah aku jadi pedagang kelapa, tetapi payahnya bukan main, aku pun mundur. Jadi pedagang peci juga begitu, ketika merasa payah aku mundur. Akhirnya, hingga detik ini, yang masih jalan hanya usaha kecil-kecilan istriku, memproduksi peyek kacang. Ekonomiku tidak pernah berubah sampai sekarang."
"Tapi di dunia dakwah, tidak seseret ekonomiku. Namaku melambung sangat cepat di kampungku. Kecerdasan pikiranku dalam membuat ide membuat gebyarku mudah menggema. Tiga tahun kemudian di kampungku bermukim seorang ustadz alim. Karena ia alim, aku minta ia membantu meramaikan masjid dan syiar agama. Ternyata, ia sombong dan dengkinya minta ampun. Lama-lama ia muncul sebagai pemuka masyarakat yang mengritisiku, ia menjadi pendengki utamaku. Tidak lama kemudian ia tidak mau makmum shalat padaku, ia bikin masjid sendiri yang jaraknya hanya 15 meter dari masjidku. Karena aku digoyang sana-sini oleh ulah-ulahnya, aku kehilangan konsentrasi ngajar ngaji, aku tidak bisa berdiri tegak lagi, hati dan pikiranku sibuk menghadapi pendengkiku itu. Satu-satu santri ngajiku bubar karena tidak betah disuguhi suhu panas konflik, aku sendiri juga jadi putus asa, tidak semangat ngurus ngaji dan ngurus masjid."
"Hingga kini konflik tidak selesai, kami berdua tidak menang tidak kalah, tetapi kami sama-sama mengalami kemunduran hidup. Pendengkiku berantakan hidup dan syiar agamanya, dan aku juga demikian."
Ia lahir cerdas, tapi kemauan untuk mengubah nasib rendah, ketika ia menghadapi pendengki sebagai wujud masalah di luar dirinya, ia pun amblas.
Karena itu, ketika dari dini Anda suka tidak menuntaskan kesulitan, ke tahap selanjutnya Anda juga tidak bisa menghadapinya. Karena sebenarnya, masalah hidup Anda adalah masalah di dalam diri Anda. Wujudnya muncul pendengki, wujudnya bangkrut, wujudnya dihina, wujudnya rizki seret, dan hambatan-hambatan lain yang muncul di luar diri Anda, tetapi sebenarnya itu kondisi mental Anda sendiri yang terbiasa lemah pendiriannya sehingga Anda gagap menghadapi masalah.
Jika seperti Jokowi, berani dengan santun menolak koalisi gendut, tidak berniat jadi capres tapi di-capres-kan orang, musuh politiknya merasa runyam di belakang hari, atau seperti Ahok, berani tegas dan beringas dengan partai pengusungnya sendiri, tendang DPR-D DKI dengan jurus sangar, tetapi Jokowi dan Ahok tetap eksis tanpa ada satu pendengkipun yang bisa menggilasnya, itu karena di dalam diri mereka telah tertanam keteguhan jiwa. Teguh dalam cita-cita, teguh untuk berubah, teguh dalam kerja, sehingga anjing hanya menggonggong di sekitarnya, kafilahnya tetap berlalu.
Begitulah, masalah itu sebenarnya di dalam diri Anda bukan di luar sana..
karya : Muhammad Nurul Banan

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking